Membangun Karakter Siswa di Era Milenial
Generasi milenial merupakan topic yang cukup hangat dikalangan masyarakat, mulai dari segi pendidikan, teknologi, maupun moral dan budaya. Tapi sebenarnya siapakah generasi milenial itu dan apakah masyarakat benar-benar tahu siapa generasi milenial itu? Generasi milenial adalah generasi yang lahir di tahun 1980-2000 an jadi generasi ini merupakan generasi muda yang berumur 17-35 tahunan, ya saya sendiri juga salah satu generasi milenial di karenakan saya sendiri lahir di tahun 90-an selain itu pada generasi ini ditandai peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Generasi milenial juga dikenal generasi pemalas kenapa seperti itu? Ya karena generasi ini adalah kaum-kaum yang narsis dan karena mereka lahir ditengah dunia yang sudah mapan, teknologi canggih, dan mereka lebih asik dengan gadget daripada ngobrol langsung, itulah mengapa mereka dicap sebagai pemalas.
Generasi milenial terbagi menjadi tiga: Pertama, mereka yang tetap mempertahankan nilai-nilai normatif di tengah-tengah gemuruhnya nilai tersebut ditanyakan, contoh sederhana saja dimana kita memakai pakaian yang tidak sesuai dengan zaman dikatakan jadul (jaman dulu), kolot dan lain sebagainya. Kedua, mereka yang tetap mengikuti perkembangan zaman dan tidak pernah mengkritisi hal-hal yang timbul ditengah ditengah-tengah mereka, atau lebih dikenal dengan kids zaman now. Yang ketiga mereka yang tetap mempertahankan nilai-nilai normatif mereka tetapi mereka tetap berpakaian seperti pakain yang diproduksi pada zaman sekarang.
Arus globalisasi merupakan fenomena yang sangat menarik dalam kehidupan masyarakat. Globalisasi sendiri dapat diartikan sebagai proses mendunianya social, ekonomi, politik hingga budaya antara satu Negara dengan Negara lainnya hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki batas. Di sebagian besar belahan dunia, pengaruh mereka ditandai dengan peningkatan liberaisasi politik dan ekonomi, meskipun sebenarnya pengaruhnya masih di perdebatkan. Selain itu di era milenial ini ditandai dengan mudahnya masyarakat mendapatkan informasi dari berbagai belahan dunia dari internet, social media, dan sebagai akibat perkembangan dari teknologi yang begitu pesat. Dalam kondisi ini tidak hanya memberikan manfaat yang positif dan tanpa di sengaja juga memberikan dampak negative bagi bangsa. Keluhan yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini. Generasi muda bangsa atau seorang siswa yang seharusnya menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku yang kesehariannya mengesampingkan etika dan moral.
Seiring berjalannya waktu dampak yang ditimbulkan oleh arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini. Pada zaman ini banyak anak muda yang telah terpengaruh dengan budaya barat dan bahkan banyak yang menjadikan “kiblat” setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah identitas dan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia. Dari situ tentunya setiap orang tua ingin mendidik anaknya agar menjadi anak yang mempunyai karakter yang baik, dan agar terwujudnya pendidikan karakter tersebut, tentunya bukanlah perkara yang mudah. Pada kenayataannya orang tua akan mengalami kesulitan dalam mendidik generasi milenial ini. Di era globalisasi ini, anak-anak dengan mudah terhubung keseluruh dunia secara online. Mereka juga memiliki kesempatan yang luas untuk mendapatkan informasi, karena generasi milenial ini punya kebiasaan yang cenderung ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan instant karena terbiasa dengan kemudahan teknologi.
Nah, secara khusus upaya yang dapat di lakukan adalah melalui proses-proses pendidikan yang ada di sekolah seperti pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan untuk menghela adanya dampak negative yang ditimbulkan karena semakin majunya teknologi yang ada. Seperti pendapat Ki Hajar Dewantoro “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), piikiran dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak dapat di pisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita”. Dari pendapat tersebut kita tentu tahu bahwa pendidikan itu sangatlah mempunyai pengaruh penting dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Tapi, kalian sendiri pasti tahu seperti apakah proses pendidikan di Indonesia untuk saat ini, apakah bisa membangun karakter bangsa? Kalau menurut saya Jawabannya belum! Kenapa? Karena menurut saya pendidikan di Indonesia sampai saat ini lebih mengedepankan penguasaan aspek keilmuan, kecerdasan dan kurang memperhatikan bahkan hampir mengabaikan pendidikan karakter.
Pada dasarnya pendidikan karakter ini memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh, seimbang, dan sesuai dengan kompetensi kelulusan. Melalui pendidikan karakter pada peserta didik ini, nantinya akan membentuk peserta didik yang cerdas, tetapi bukan saja cerdas dalam pembelajaran saja, namun juga mempunyai moral yang bagus.lebih jelas nya pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mempengaruhi peserta didik. Hali ini mencakup ketladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal lainnya yang terkait dengan guru.
Seperti contoh bersikap sopan, patuh pada aturan, dan bersikap jujur. Pembentukan karakter tidak akan pernah berhasil selama tidak ada keseimbangan dan keharmonisan di antara lingkungan pendidikan. Dengan adanya lingkungan yang kondusif nantinya peserta didik akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Selain itu peran keluarga juga sangat penting. Mengapa demikian? Karena peran keluarga sebagai pembentukan utama yang harus dilakukan kemudian di dukung oleh lingkungan sekolah dan proses pembelajaran di sekolah yang nantinya akan memperkuat karakter baik seseorang.
Untuk mencapai keberhasilan pendidikan karakter tidak akan pernah lepas dari teladan seorang guru. Karena guru adalah panutan bagi siswa, dan guru adalah jantung pendidikan yang tidak akan pernah bisa kita pungkiri. Tetapi teladan guru yang baik tidak akan berhasil jika guru hanya berperilaku baik didalam lingkup sekolah, namun tidak di lingkup masyarakat. Selain itu dalam mendidik karakter bangsa seorang guru juga harus mengembangkan nilai-nilai pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan, hati, otak dan juga fisik. Generasi milenial tidak lagi seorang anak yang bisa diatur ini itu dengan paksaan seperti orang yang lahir sebelum tahun 80 an, dalam menyikapinya harus dengan arif dan bijaksana.
Bung Karno pernah berpendapat “ bahwa karakter bangsa Indonesia merupakan kesatuan seluruh wilayah dan hati bangsa Indonesia serta kepercayaan diri Indonesia yang tinggi sehingga mampu menjadi bangsa yang patut di banggakan” dari pendapat beliau menurut saya selain dengan pendidikan karakter yang ada di sekolah maupun pendidikan karakter di lingkup keluarga cara yang tepat untuk membangun karakter bangsa yang bermoral adalah dengan membangun dan juga menata kembali watak bangsa Indonesia dengan terus melakukan pengembangan diri dan juga memiliki kesadaran untuk menerapkan pendidikan karakter dikalangan masyarakat. selain itu juga dapat dilakukan metode-metode lain yang bisa menarik seseorang untuk ikut serta berpartisipasi dalam membangun karakter bangsa yang bermoral di era milenial ini. Oleh karena itu mari kita bersama-sama mewujudkan generasi milenial bukan sebagai generasi gadget maupun generassi pemalas melainkan generasi pembangun karakter bangsa yang siap membangun bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang bermoral.
Unisda Naharus Siyamin Ni'mah
Rabu, 31 Oktober 2018
Membangun Karakter Siswa di Era Milenial
Generasi milenial merupakan topic yang cukup hangat dikalangan masyarakat, mulai dari segi pendidikan, teknologi, maupun moral dan budaya. Tapi sebenarnya siapakah generasi milenial itu dan apakah masyarakat benar-benar tahu siapa generasi milenial itu? Generasi milenial adalah generasi yang lahir di tahun 1980-2000 an jadi generasi ini merupakan generasi muda yang berumur 17-35 tahunan, ya saya sendiri juga salah satu generasi milenial di karenakan saya sendiri lahir di tahun 90-an selain itu pada generasi ini ditandai peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Generasi milenial juga dikenal generasi pemalas kenapa seperti itu? Ya karena generasi ini adalah kaum-kaum yang narsis dan karena mereka lahir ditengah dunia yang sudah mapan, teknologi canggih, dan mereka lebih asik dengan gadget daripada ngobrol langsung, itulah mengapa mereka dicap sebagai pemalas.
Generasi milenial terbagi menjadi tiga: Pertama, mereka yang tetap mempertahankan nilai-nilai normatif di tengah-tengah gemuruhnya nilai tersebut ditanyakan, contoh sederhana saja dimana kita memakai pakaian yang tidak sesuai dengan zaman dikatakan jadul (jaman dulu), kolot dan lain sebagainya. Kedua, mereka yang tetap mengikuti perkembangan zaman dan tidak pernah mengkritisi hal-hal yang timbul ditengah ditengah-tengah mereka, atau lebih dikenal dengan kids zaman now. Yang ketiga mereka yang tetap mempertahankan nilai-nilai normatif mereka tetapi mereka tetap berpakaian seperti pakain yang diproduksi pada zaman sekarang.
Arus globalisasi merupakan fenomena yang sangat menarik dalam kehidupan masyarakat. Globalisasi sendiri dapat diartikan sebagai proses mendunianya social, ekonomi, politik hingga budaya antara satu Negara dengan Negara lainnya hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki batas. Di sebagian besar belahan dunia, pengaruh mereka ditandai dengan peningkatan liberaisasi politik dan ekonomi, meskipun sebenarnya pengaruhnya masih di perdebatkan. Selain itu di era milenial ini ditandai dengan mudahnya masyarakat mendapatkan informasi dari berbagai belahan dunia dari internet, social media, dan sebagai akibat perkembangan dari teknologi yang begitu pesat. Dalam kondisi ini tidak hanya memberikan manfaat yang positif dan tanpa di sengaja juga memberikan dampak negative bagi bangsa. Keluhan yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini. Generasi muda bangsa atau seorang siswa yang seharusnya menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku yang kesehariannya mengesampingkan etika dan moral.
Seiring berjalannya waktu dampak yang ditimbulkan oleh arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini. Pada zaman ini banyak anak muda yang telah terpengaruh dengan budaya barat dan bahkan banyak yang menjadikan “kiblat” setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah identitas dan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia. Dari situ tentunya setiap orang tua ingin mendidik anaknya agar menjadi anak yang mempunyai karakter yang baik, dan agar terwujudnya pendidikan karakter tersebut, tentunya bukanlah perkara yang mudah. Pada kenayataannya orang tua akan mengalami kesulitan dalam mendidik generasi milenial ini. Di era globalisasi ini, anak-anak dengan mudah terhubung keseluruh dunia secara online. Mereka juga memiliki kesempatan yang luas untuk mendapatkan informasi, karena generasi milenial ini punya kebiasaan yang cenderung ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan instant karena terbiasa dengan kemudahan teknologi.
Nah, secara khusus upaya yang dapat di lakukan adalah melalui proses-proses pendidikan yang ada di sekolah seperti pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan untuk menghela adanya dampak negative yang ditimbulkan karena semakin majunya teknologi yang ada. Seperti pendapat Ki Hajar Dewantoro “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), piikiran dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak dapat di pisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita”. Dari pendapat tersebut kita tentu tahu bahwa pendidikan itu sangatlah mempunyai pengaruh penting dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Tapi, kalian sendiri pasti tahu seperti apakah proses pendidikan di Indonesia untuk saat ini, apakah bisa membangun karakter bangsa? Kalau menurut saya Jawabannya belum! Kenapa? Karena menurut saya pendidikan di Indonesia sampai saat ini lebih mengedepankan penguasaan aspek keilmuan, kecerdasan dan kurang memperhatikan bahkan hampir mengabaikan pendidikan karakter.
Pada dasarnya pendidikan karakter ini memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh, seimbang, dan sesuai dengan kompetensi kelulusan. Melalui pendidikan karakter pada peserta didik ini, nantinya akan membentuk peserta didik yang cerdas, tetapi bukan saja cerdas dalam pembelajaran saja, namun juga mempunyai moral yang bagus.lebih jelas nya pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mempengaruhi peserta didik. Hali ini mencakup ketladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal lainnya yang terkait dengan guru.
Seperti contoh bersikap sopan, patuh pada aturan, dan bersikap jujur. Pembentukan karakter tidak akan pernah berhasil selama tidak ada keseimbangan dan keharmonisan di antara lingkungan pendidikan. Dengan adanya lingkungan yang kondusif nantinya peserta didik akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Selain itu peran keluarga juga sangat penting. Mengapa demikian? Karena peran keluarga sebagai pembentukan utama yang harus dilakukan kemudian di dukung oleh lingkungan sekolah dan proses pembelajaran di sekolah yang nantinya akan memperkuat karakter baik seseorang.
Untuk mencapai keberhasilan pendidikan karakter tidak akan pernah lepas dari teladan seorang guru. Karena guru adalah panutan bagi siswa, dan guru adalah jantung pendidikan yang tidak akan pernah bisa kita pungkiri. Tetapi teladan guru yang baik tidak akan berhasil jika guru hanya berperilaku baik didalam lingkup sekolah, namun tidak di lingkup masyarakat. Selain itu dalam mendidik karakter bangsa seorang guru juga harus mengembangkan nilai-nilai pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan, hati, otak dan juga fisik. Generasi milenial tidak lagi seorang anak yang bisa diatur ini itu dengan paksaan seperti orang yang lahir sebelum tahun 80 an, dalam menyikapinya harus dengan arif dan bijaksana.
Bung Karno pernah berpendapat “ bahwa karakter bangsa Indonesia merupakan kesatuan seluruh wilayah dan hati bangsa Indonesia serta kepercayaan diri Indonesia yang tinggi sehingga mampu menjadi bangsa yang patut di banggakan” dari pendapat beliau menurut saya selain dengan pendidikan karakter yang ada di sekolah maupun pendidikan karakter di lingkup keluarga cara yang tepat untuk membangun karakter bangsa yang bermoral adalah dengan membangun dan juga menata kembali watak bangsa Indonesia dengan terus melakukan pengembangan diri dan juga memiliki kesadaran untuk menerapkan pendidikan karakter dikalangan masyarakat. selain itu juga dapat dilakukan metode-metode lain yang bisa menarik seseorang untuk ikut serta berpartisipasi dalam membangun karakter bangsa yang bermoral di era milenial ini. Oleh karena itu mari kita bersama-sama mewujudkan generasi milenial bukan sebagai generasi gadget maupun generassi pemalas melainkan generasi pembangun karakter bangsa yang siap membangun bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang bermoral.
Generasi milenial merupakan topic yang cukup hangat dikalangan masyarakat, mulai dari segi pendidikan, teknologi, maupun moral dan budaya. Tapi sebenarnya siapakah generasi milenial itu dan apakah masyarakat benar-benar tahu siapa generasi milenial itu? Generasi milenial adalah generasi yang lahir di tahun 1980-2000 an jadi generasi ini merupakan generasi muda yang berumur 17-35 tahunan, ya saya sendiri juga salah satu generasi milenial di karenakan saya sendiri lahir di tahun 90-an selain itu pada generasi ini ditandai peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Generasi milenial juga dikenal generasi pemalas kenapa seperti itu? Ya karena generasi ini adalah kaum-kaum yang narsis dan karena mereka lahir ditengah dunia yang sudah mapan, teknologi canggih, dan mereka lebih asik dengan gadget daripada ngobrol langsung, itulah mengapa mereka dicap sebagai pemalas.
Generasi milenial terbagi menjadi tiga: Pertama, mereka yang tetap mempertahankan nilai-nilai normatif di tengah-tengah gemuruhnya nilai tersebut ditanyakan, contoh sederhana saja dimana kita memakai pakaian yang tidak sesuai dengan zaman dikatakan jadul (jaman dulu), kolot dan lain sebagainya. Kedua, mereka yang tetap mengikuti perkembangan zaman dan tidak pernah mengkritisi hal-hal yang timbul ditengah ditengah-tengah mereka, atau lebih dikenal dengan kids zaman now. Yang ketiga mereka yang tetap mempertahankan nilai-nilai normatif mereka tetapi mereka tetap berpakaian seperti pakain yang diproduksi pada zaman sekarang.
Arus globalisasi merupakan fenomena yang sangat menarik dalam kehidupan masyarakat. Globalisasi sendiri dapat diartikan sebagai proses mendunianya social, ekonomi, politik hingga budaya antara satu Negara dengan Negara lainnya hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki batas. Di sebagian besar belahan dunia, pengaruh mereka ditandai dengan peningkatan liberaisasi politik dan ekonomi, meskipun sebenarnya pengaruhnya masih di perdebatkan. Selain itu di era milenial ini ditandai dengan mudahnya masyarakat mendapatkan informasi dari berbagai belahan dunia dari internet, social media, dan sebagai akibat perkembangan dari teknologi yang begitu pesat. Dalam kondisi ini tidak hanya memberikan manfaat yang positif dan tanpa di sengaja juga memberikan dampak negative bagi bangsa. Keluhan yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini. Generasi muda bangsa atau seorang siswa yang seharusnya menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku yang kesehariannya mengesampingkan etika dan moral.
Seiring berjalannya waktu dampak yang ditimbulkan oleh arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini. Pada zaman ini banyak anak muda yang telah terpengaruh dengan budaya barat dan bahkan banyak yang menjadikan “kiblat” setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah identitas dan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia. Dari situ tentunya setiap orang tua ingin mendidik anaknya agar menjadi anak yang mempunyai karakter yang baik, dan agar terwujudnya pendidikan karakter tersebut, tentunya bukanlah perkara yang mudah. Pada kenayataannya orang tua akan mengalami kesulitan dalam mendidik generasi milenial ini. Di era globalisasi ini, anak-anak dengan mudah terhubung keseluruh dunia secara online. Mereka juga memiliki kesempatan yang luas untuk mendapatkan informasi, karena generasi milenial ini punya kebiasaan yang cenderung ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan instant karena terbiasa dengan kemudahan teknologi.
Nah, secara khusus upaya yang dapat di lakukan adalah melalui proses-proses pendidikan yang ada di sekolah seperti pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan untuk menghela adanya dampak negative yang ditimbulkan karena semakin majunya teknologi yang ada. Seperti pendapat Ki Hajar Dewantoro “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), piikiran dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak dapat di pisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita”. Dari pendapat tersebut kita tentu tahu bahwa pendidikan itu sangatlah mempunyai pengaruh penting dalam membangun karakter bangsa Indonesia. Tapi, kalian sendiri pasti tahu seperti apakah proses pendidikan di Indonesia untuk saat ini, apakah bisa membangun karakter bangsa? Kalau menurut saya Jawabannya belum! Kenapa? Karena menurut saya pendidikan di Indonesia sampai saat ini lebih mengedepankan penguasaan aspek keilmuan, kecerdasan dan kurang memperhatikan bahkan hampir mengabaikan pendidikan karakter.
Pada dasarnya pendidikan karakter ini memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh, seimbang, dan sesuai dengan kompetensi kelulusan. Melalui pendidikan karakter pada peserta didik ini, nantinya akan membentuk peserta didik yang cerdas, tetapi bukan saja cerdas dalam pembelajaran saja, namun juga mempunyai moral yang bagus.lebih jelas nya pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mempengaruhi peserta didik. Hali ini mencakup ketladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal lainnya yang terkait dengan guru.
Seperti contoh bersikap sopan, patuh pada aturan, dan bersikap jujur. Pembentukan karakter tidak akan pernah berhasil selama tidak ada keseimbangan dan keharmonisan di antara lingkungan pendidikan. Dengan adanya lingkungan yang kondusif nantinya peserta didik akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Selain itu peran keluarga juga sangat penting. Mengapa demikian? Karena peran keluarga sebagai pembentukan utama yang harus dilakukan kemudian di dukung oleh lingkungan sekolah dan proses pembelajaran di sekolah yang nantinya akan memperkuat karakter baik seseorang.
Untuk mencapai keberhasilan pendidikan karakter tidak akan pernah lepas dari teladan seorang guru. Karena guru adalah panutan bagi siswa, dan guru adalah jantung pendidikan yang tidak akan pernah bisa kita pungkiri. Tetapi teladan guru yang baik tidak akan berhasil jika guru hanya berperilaku baik didalam lingkup sekolah, namun tidak di lingkup masyarakat. Selain itu dalam mendidik karakter bangsa seorang guru juga harus mengembangkan nilai-nilai pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan, hati, otak dan juga fisik. Generasi milenial tidak lagi seorang anak yang bisa diatur ini itu dengan paksaan seperti orang yang lahir sebelum tahun 80 an, dalam menyikapinya harus dengan arif dan bijaksana.
Bung Karno pernah berpendapat “ bahwa karakter bangsa Indonesia merupakan kesatuan seluruh wilayah dan hati bangsa Indonesia serta kepercayaan diri Indonesia yang tinggi sehingga mampu menjadi bangsa yang patut di banggakan” dari pendapat beliau menurut saya selain dengan pendidikan karakter yang ada di sekolah maupun pendidikan karakter di lingkup keluarga cara yang tepat untuk membangun karakter bangsa yang bermoral adalah dengan membangun dan juga menata kembali watak bangsa Indonesia dengan terus melakukan pengembangan diri dan juga memiliki kesadaran untuk menerapkan pendidikan karakter dikalangan masyarakat. selain itu juga dapat dilakukan metode-metode lain yang bisa menarik seseorang untuk ikut serta berpartisipasi dalam membangun karakter bangsa yang bermoral di era milenial ini. Oleh karena itu mari kita bersama-sama mewujudkan generasi milenial bukan sebagai generasi gadget maupun generassi pemalas melainkan generasi pembangun karakter bangsa yang siap membangun bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang bermoral.
Rabu, 25 April 2018
Ya Nabi Ya Rasulullah
Ya nabi ya Rasulullah
Panutan kami, akhir dari segala nabi
Kaulah surya penerang umat manusia
Kaulah purnama ditengah gulita
Engkaulah cahaya di atas cahaya
Yang tak kan pernah padam
Hingga akhir zaman
Ya Nabiyallah, Ya Habiballah
Kau ciptakan kedamaian
Ditengah kekacauan dan kebodohan
Suara kejahiliyahan Yang terdengar sumbang
Kau gantikan dengan nyayian surga
Yang sungguh menentramkan
Ya Nabi Ya Rasulullah
Biarkan aku memujamu, memujimu
Kugoreskan namamu dihatiku
Kan kuperlihatkan kepadamu
Kala aku bersua denganmu
Disurga Tuhanku juga Tuhanmu
Panutan kami, akhir dari segala nabi
Kaulah surya penerang umat manusia
Kaulah purnama ditengah gulita
Engkaulah cahaya di atas cahaya
Yang tak kan pernah padam
Hingga akhir zaman
Ya Nabiyallah, Ya Habiballah
Kau ciptakan kedamaian
Ditengah kekacauan dan kebodohan
Suara kejahiliyahan Yang terdengar sumbang
Kau gantikan dengan nyayian surga
Yang sungguh menentramkan
Ya Nabi Ya Rasulullah
Biarkan aku memujamu, memujimu
Kugoreskan namamu dihatiku
Kan kuperlihatkan kepadamu
Kala aku bersua denganmu
Disurga Tuhanku juga Tuhanmu
Rabu, 04 April 2018
Langganan:
Postingan (Atom)